Hafiz : Tumbuh Liar di Antara Orang Dewasa
Bocah itu bernama Hafiz. Baru berusia sembilan tahun, tapi IQ-nya hanya 40. Di balik mata polosnya, tersimpan badai yang tak terucapkan. Hobinya yang paling sering terlihat adalah menyentuh dirinya sendiri dengan cara yang tak pantas, dan suka merusak apa saja yang ada di hadapannya.
Saya tak sengaja menemukan video itu di beranda. Karena penasaran dengan kisahnya, saya pun mencari video pertama yang diunggah Teh Novi. Dari situlah saya mulai memahami: Hafiz bukan sekadar anak nakal. Ia membawa luka psikologis yang sangat berat.
Sebelum dijemput Teh Novi, Hafiz sering keluyuran sendirian di kampung. Warga kerap menemukannya sedang bermain dengan kelaminnya sendiri. Mereka resah. Akhirnya, laporan pun sampai ke Teh Novi. Anak itu diangkat, dibawa ke yayasan.
Namun masalah tak langsung selesai. Di tempat baru, perilakunya masih sama. Ia masih membawa bayang-bayang masa lalunya. Puncaknya, beberapa waktu lalu, Hafiz menghancurkan semua televisi yang ada di yayasan. Bukan hanya itu, ia juga sering menyentuh penghuni perempuan — memegang paha, dada, dan bagian tubuh lainnya tanpa malu.
Kelakuan itu membuat Teh Novi murka. Selain kerugian materi yang tak sedikit, ia juga khawatir akan kenyamanan dan keselamatan anak-anak lain.
Di video kelima, Teh Novi akhirnya mengungkap hasil tesnya: IQ Hafiz hanya 40. Jauh di bawah ambang normal manusia. Ia adalah penyandang disabilitas intelektual.
Saya lalu membaca komentar di bawah video. Salah satu akun menuliskan cerita yang membuat dada saya sesak. Ternyata perempuan itu tetangga satu kampung dengan Hafiz. Ia bercerita bahwa Hafiz adalah anak korban perceraian. Ayah dan ibunya menikah lagi, lalu menitipkannya ke saudara. Sejak kecil, tak ada yang benar-benar mengurusnya. Ia tumbuh liar, menggelandang di sepanjang kampung.
Kata-kata itu terus berputar di kepala saya.
Dari yang semula sedikit jengkel melihat kelakuannya, kini hanya tersisa rasa sedih yang dalam. Hafiz sejak kecil tak pernah benar-benar dilihat. Tak ada pelukan, tak ada batasan, tak ada yang mengajarinya mana yang baik dan buruk.
Ia korban. Korban kelalaian orang dewasa di sekitarnya. Mungkin saja, di kampung itu, ada orang-orang tak bertanggung jawab yang sengaja memberinya tontonan dewasa atau bahkan memanfaatkannya. Jadilah ia terjebak dalam kebiasaan yang tak ia pahami.
Dan saya yakin, di luar sana, ada ribuan Hafiz lainnya. Anak-anak yang hanya dilahirkan, lalu dibiarkan tumbuh sendiri seperti rumput liar. Tanpa kasih sayang. Tanpa bimbingan. Tanpa harapan.
Sumber : https://www.youtube.com/@PratiwiNoviyanthi
- Business and Investment
- Education
- Entertainment and Pop Culture
- Fiction and Creative Writing
- Health & Wellness
- Lifestyle and Hobbies
- Movies and Cinema
- News and Journalism
- Society, Arts, and Culture
- Sports
- Tech and Innovation